Sejak zaman nabi Ibrahim as, sampai zaman nabi Muhammad saw tiba di Mekkah, itu pengurusan pelayanan jamaah yang berziarah ke Baitullah, selalu di urus oleh salah satu puak/suku padang Pasir yang berkuasa dan menguasai daerah itu. Selama ini tak ada masalah. bahkan Allah swt yang memiliki rumah tua itu (sebutan untuk Baitullah), selama masa itu pun tak mempermasalahkan mereka seperti misalnya menurunkan azab karena mereka dinilai Allah telah menyalahi aturan di dalam melayani penziarah ke Baitullah itu.
Terakhir itu ada Abrahah, Raja dari Habsyi yang ingin merebut Mekkah dan Ka'bah itu dari suku pengelola Ka'bah itu di abad ke 6, tapi gagal karena mereka diserang pasukan burung Ababil menjelang masuk kota Mekkah (di daerah perbatasan Mudzdalifah dan Mina sekarang ini). Mereka hancur kena sejenis penyakit wabah cacar. Allah tampaknya tak redha si raja Abrahah mengambil alih Ka'bah, sehingga pengelolannya tetap "dipercayakan" dan "diserahkan" pada puak Quraisy yang waktu itu belum Islam. Puak Quraisy inilah sukunya nabi Muhammad saw. Sampai hari ini, puak Quraisy itu tetap "dipercaya" oleh Allah untuk mengelola Baitullah itu, yaitu memberikan pelayanan untuk para penziarah haji ke Baitullah.
Di zaman sekarang ini, hanya IRAN yang mayoritas penduduknya penganut muslim Syiah, yang berusaha untuk menguasai atau meng-internasionalkan wilayah Haramain itu (Mekkah dan Madinah). Tapi IRAN tak mendapat dukungan dari hampir seluruh negeri Islam atau yang berpenduduk mayoritas Islam di seluruh Dunia. Selain IRAN, yang lantang bersikeras agar pengelolaan atas Mekkah itu diambil alih dan di internasionalisasi, baru kali ini ada datang dari Jakarta, yaitu dari politisi PDIP. Hebat kagak tuh! Atau karena dianya hanya asal njeplak?
No comments:
Post a Comment